Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Ilmu Kalam

1.) Imam Abu Hanifah mengatakan: ?Di kota Bashrah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu (kesukaan) sangat banyak. Saya tiba di Bashrah lebih dari dua puluh kali. Terkadang aku tinggal pada Bashrah lebih berdasarkan satu tahun, terkadang satu tahun, & terkadang kurang dari satu tahun. Hal itu lantaran saya menerka bahwa Ilmu Kalam itu adalah ilmu yg paling mulia.?

2.) Beliau menuturkan: ?Saya pernah mendalami Ilmu Kalam, sampai aku tergolong insan langka pada Ilmu Kalam. Suatu ketika saya tinggal dekat pengajian Hammad bin Abu Sulaiman. Lalu terdapat seseorang perempuan tiba kepadaku, beliau mengatakan: ?Ada seorang lelaki memiliki seorang istri perempuan sahaya. Lelaki itu ingin menalaknya dengan talak yg sesuai sunnah. Berapakah beliau wajib menalaknya??. Pada ketika itu aku tidak memahami apa yg harus aku jawab. Saya hanya menyarankan agar beliau datang ke Hammad buat menanyakan hal itu, kemudian pulang lagi ke aku , & apa jawaban Hammad. Ternyata Hammad menjawab: ?Lelaki itu dapat menalaknya ketika istrinya dalam keadaan suci dari haid dan juga nir dilakukan hubungan jima?, menggunakan satu kali talak saja. Kemudian istrinya dibiarkan hingga haid 2 kali. Jika istri itu telah suci lagi, maka ia halal buat dinikahi. Begitulah, perempuan itu kemudian tiba lagi pada saya & memberitahukan jawaban Hammad tadi. Akhirnya saya berkesimpulan, ?Saya tidak perlu lagi mengusut Ilmu Kalam. Saya ambil sandalku & pergi untuk berguru pada Hammad?.?

3.) Beliau berkata lagi: ?Semoga Allah melaknat Amr bin Ubaid, karena telah merintis jalan buat orang-orang yang menyelidiki Ilmu Kalam, padahal ilmu ini tidak terdapat gunanya bagi mereka.?

4.) Beliau pula pernah ditanya seseorang, ?Apakah pendapat Anda tentang masalah baru yg dibicarakan orang-orang pada Ilmu Kalam, yaitu kasus sifat-sifat & Jism?? Beliau menjawab, ?Itu merupakan ucapan-ucapan para pakar filsafat. Kamu harus mengikuti hadits Nabi saw. & metode para ulama salaf. Jauhilah setiap hal yg baru, kerena hal itu adalah bid?Ah.?

5.) Putra Imam Abu Hanifah , yg namanya Hammad, menuturkan, ?Pada suatu hari ayah tiba ke rumahku. Waktu itu pada rumah ada orang-orang yang sedang menekuni Ilmu Kalam, & kita sedang berdiskusi tentang suatu perkara. Tentu saja suara kami keras, sehingga sepertinya ayah terganggu. Kemudian saya menemui dia, ?Hai Hammad, siapa saja orang-orang itu??, tanya dia. Saya menjawab dengan menjelaskan nama mereka satu persatu. ?Apa yang sedang kalian bicarakan??, tanya beliau lagi. Saya menjawab, ?Ada suatu perkara ini & itu?. Kemudian beliau mengungkapkan: ?Hai Hammad, tinggalkanlah Ilmu Kalam.? Kata Hammad selanjutnya: ?Padahal setahu saya, ayah nir pernah berubah pendapat, nir pernah jua menyuruh sesuatu kemudian melarangnya.? Hammad lalu mengungkapkan pada beliau, ?Wahai Ayahanda, bukankah ayahanda pernah menyuruhku untuk menyelidiki Ilmu Kalam??. ?Ya, memang pernah?. Jawab dia, ?Namun itu dahulu. Sekarang saya melarangmu, jangan mempelajari Ilmu Kalam?, tambah beliau. ?Kenapa, wahai ayahanda??, tanya Hammad lagi. Beliau menjawab, ?Wahai anakku, mereka yg berdebat pada Ilmu Kalam, pada mulanya adalah bersatu pendapat & agama mereka satu. Namun syetan mengganggu mereka sebagai akibatnya mereka bermusuhan dan berbeda pendapat?.?

6.) Kepada Abu Yusuf, Imam Abu Hanifah menyampaikan: ?Jangan sekali-kali kamu berbicara kepada orang-orang umum pada perkara ushuluddin dengan mengambil pendapat Ilmu Kalam, karena mereka akan mengikuti kamu & akan merepotkan kamu.?

Inilah rangkuman berdasarkan pendapat-pendapat Imam Abu Hanifah, mengenai aqidah dia dalam perkara Ushuluddin & perilaku beliau terhadap Ilmu Kalam & ahli-pakar Ilmu Kalam.

Wallahu A?Lam

Sumber: Kitab I?Tiqadul A?Immatil Arba?Ah karya Syaikh Abdurrahman al-Khumais

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Ilmu Kalam"